"Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia." Terdiri dari ribuan pulau yang membentuk sebuah negara kesatuan, Indonesia punya banyak sekali keberagaman. Mulai dari keberagaman budaya, suku, adat-istiadat, flora, fauna, pangan lokal, kebiasaan, destinasi wisata, hingga alat musik. Begitu banyak perbedaan yang justru mempersatukan. alat musik dol.

Bengkulu, begitu kami menyebutnya. Dikenal sebagai tempat ditemukannya bunga terbesar di dunia, namun Bengkulu bukan hanya tentang Bunga Rafflesia. Ada banyak keberagaman yang dapat kita temukan pada provinsi kecil di Pulau Sumatra ini, musik dol misalnya.


alat musik dol



Aku ingat betul bahwa awal interaksiku yang paling dekat dengan dol adalah saat SMA. Saat itu ruang kelas bahasa kami dilengkapi dengan alat musik dol yang mana entah apa maksudnya, alih-alih ruang kelas kesenian yang ramai oleh alat musik tradisional khas daerah, ini malah ruang bahasa. Dan pada suatu hari dol di ruang bahasa tersebut hilang dan kami sempat disalahkan. Aku lupa bagaimana akhir cerita tersebut, yang pasti sih kini terasa lucu bila diingat XP




Asal-usul Alat Musik Dol




Musik dol terdiri dari dol, tassa, serta seruling. Nah, pada pembahasan kali ini, aku hanya akan membahas secara spesifik mengenai dol. Dol atau sering disebut sebagai dhol merupakan alat musik sejenis perkusi atau bedug. Alat musik khas Bengkulu ini pun bisa dikatakan sejenis dengan Rapa'i, alat musik tradisional khas Aceh. Tidak heran bila mengingat sejarah masuknya Islam di Pulau Sumatera, salah satunya dengan perantara alat musik.

Dol dimainkan dengan cara ditabuh atau dipukul, mengingat ukurannya yang cukup besar. Diamaternya sekitar 70 cm dan tingginya 80 cm. Alat musik satu ini terbuat dari bonggol buah kelapa, bisa juga dari pohon nangka. Meski provinsi Bengkulu sendiri dikelilingi oleh pantai, bukan berarti bisa sembarang menjadikan bonggol buah kelapa sebagai bahan baku pembuatan dol.


alat musik dol
Alat musik dol. Sumber gambar: satujuang



Awalnya, dol tidak boleh ditabuh oleh sembarang orang. Hanya keturunan tabut yang disebut sebagai sipai (warga Bengkulu keturunan India) yang boleh menabuhnya. Sebab dol diperkenalkan kali pertama oleh masyarakat muslim India saat pemerintahan kolonial Inggris. Masyarakat muslim India tersebut menikah dengan orang lokal Bengkulu. Nah, para keturunannya inilah yang disebut sebagai keluarga tabut atau tabot. Kebiasaan ini pun berakhir pada tahun 1970, dan kini semua orang bisa menjadi seorang penabuh dol.




Alat Musik Dol dan Keanekaragaman Masyarakat Bengkulu




Masyarakat Provinsi Bengkulu sendiri terdiri dari beragam suku. Ada suku Rejang, Lembak, Selatan, dan lain sebagainya. Di provinsi yang dikelilingi oleh pantai inilah kami bersatu meski dipenuhi keberagaman. Salah satunya adalah melalui alat musik dol.

Seiring dengan berkembangnya zaman, semua orang bisa menjadi penabuh dol. Dol pun tidak lagi hanya ditabuh pada upacara Tabut yang dilakukan setahun sekali. Dol kini telah ramai ditabuh pada berbagai acara seremonial, upacara Tabut, acara-acara penting, hingga upacara kematian. Alat musik dol mulai diperkenalkan kepada seluruh masyarakat Bengkulu, Indonesia, dan dunia.



alat musik dol
Musik dol oleh anak-anak. Sumber gambar: beritasatu





Menjaga Lingkungan Hidup Guna Kelestarian Keanekaragaman di Indonesia




Sebelumnya sudah kujelaskan bahwa dol dibuat dari bonggol pohon kelapa dan pohon nangka. Dengan geografis wilayahnya yang dikelilingi oleh pantai, tak lantas menjadikan pembuatan alat musik dol menjadi lebih mudah karena bahan yang mudah didapatkan. Ada kriteria tersendiri yang harus dipenuhi untuk dapat dipergunakan sebagai bahan pembuatan dol.

Musik dol yang sedang digalakkan pemerintah pun ternyata sempat membuat para pengrajin dol kesulitan, salah satunya ya karena ketersediaan bahan di lapangan untuk pembuatan dol. Alamlah yang menyediakan bahan untuk kita melestarikan budaya alat musik dol ini. Maka sudah menjadi tugas kitalah untuk menjaga lingkungan hidup guna kelestarian keanekaragaman di Indonesia. 

Bagaimana caranya?

  • Ramah lingkungan,
  • Menjaga dan melindungi hutan,
  • Melakukan diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan,
  • Menjaga dan melindungi flora Indonesia,
  • Menjaga dan melindungi fauna Indonesia,
  • Berwisata tanpa merusak alam.



Menjaga lingkungan hidup dan melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan, dan berpengaruh langsung dalam melestarikan keanekaragaman di Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi, kan?

No comments: