Budaya Minta Oleh-oleh dan Titip Belikan Barang



"Mau ngetrip lagi? Minta oleh-oleh ya jangan lupa."

"Ih, kamu kok bisa pergi melulu? Banyak duit ya? Aku nitip beliin barang abcdefghijkl dong, jangan lupa ya."


Are you familiar enough?


Yang suka jalan-jalan pasti hafal nih sama kebiasaan masyarakat kita. Apalagi kalau bukan tradisi minta oleh-oleh dan permintaan untuk membelikan suatu barang. Cukup beberapa kalimat yang tampaknya sederhana, malah kadang dicetuskan dengan lancarnya seolah tanpa pikir panjang.
Budaya (bu.da.ya):
n cak sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah

Oleh-oleh:
n sesuatu yang dibawa dari bepergian; buah tangan
(Kamus Besar Bahasa Indonesia V)

Budaya minta oleh-oleh: suatu kebiasaan di masyarakat kita di mana orang yang bepergian akan diminta suatu buah tangan.

Mengapa minta oleh-oleh dan membeli barang ini sudah bisa dikategorikan sebagai budaya? Karena telah menjadi kebiasaan yang berakar di masyarakat. Bukan hanya teman-teman atau kenalan kita, namun juga orang yang tidak dikenal.

Masalahnya, budaya minta oleh-oleh ini cuma ada di masyarakat Indonesia, karena anggapan masyarakat kita untuk seseorang yang akan bepergian itu adalah orang kaya yang mempunyai banyak uang. Kebanyakan masyarakat kita juga masih menganggap jalan-jalan itu sama dengan shopping sepuasnya.

Baca juga: Tips Anti Kekurangan dalam Mempersiapkan Dana untuk Mudik Lebaran 2018

Yang nyebelinnya adalah, orang-orang tukang minta oleh-oleh serta minta dibelikan barang yang selanjutnya akan disebut sebagai para peminta dan penitip ini, bukan termasuk dalam kalangan keluarga dan teman-teman terdekat. Orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal pun bisa tiba-tiba menghubungi kita dan sok akrab demi bisa meminta oleh-oleh ataupun meminta untuk dibelikan suatu barang. Dan dengan entengnya pula, minta dibeliin dulu tanpa memberikan uangnya terlebih dahulu.

Kecuali kita memang membuka jasa penitipan pembelian barang, serta telah ada perjanjian pembelian barang sebelumnya. Okay, mau sedikit curhat. Kemarin ke Jepang awalnya buka penitipan pembelian barang, tapi terpaksa di-cancel karena badai salju menyebabkan kereta dan bus kita dibatalkan, sehingga mau tidak mau itinerary yang telah disusun sebelumnya harus dirombak ulang. Cerita lengkapnya akan dituliskan di www.aninditaayu.com.

Ke Jepang beli ini aja untuk adek, ayah, dan mama. Tas 30ribuan, dasi 10ribuan.
Ke Jepang beli ini aja untuk adek, ayah, dan mama. Tas 45ribuan, dasi 14ribuan.

Sesungguhnya budaya minta oleh-oleh dan minta dibelikan barang ini menyebalkan. Mengapa?


Orang yang dititipi belum tentu memiliki banyak uang

Pertama, kita harus tau tujuan utama seseorang bepergian baik di dalam ataupun ke luar negeri. Apakah dalam rangka perjalanan dinas, liburan, sekolah, kuliah, ataupun kembali ke tanah air setelah tamat kuliah.

Mahasiswa baik yang berkuliah di dalam atau luar negeri misalnya, seberapa banyak sih uangnya? *kalau aku sih, pas masih jadi mahasiswa, selalu punya uang pas-pasan. Apalagi mahasiswa yang mengandalkan beasiswa untuk menyambung hidupnya. Mahasiswa ini yang pulang ke rumahnya hanya beberapa bulan atau beberapa tahun sekali, tolong jangan tambah beban mereka.

Para mantan mahasiswa yang baru saja menyelesaikan study-nya dan akan kembali ke Indonesia, kemungkinan besar tidak memiliki banyak uang. Lagipula pasti banyak sekali barang yang harus mereka bawa. Pasti mereka dipusingkan dengan packing barang-barang penting kembali ke Indonesia. Jika memaksa untuk meminta dibelikan oleh-oleh pasti membuat mereka kewalahan.

Baiklah mungkin memang orang yang akan dititipi ini akan pergi liburan. Lalu selidiki lagi jenis liburan bagaimana yang akan dijalani olehnya. Apakah mereka akan bepergian dengan dana tak terbatas atau malah seminim mungkin? Apakah uang yang mereka bawa hanya cukup untuk penginapan, makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya? Jika memang lebih mungkin bisa dititipi, namun jika mereka hanya memiliki dana yang ngepas, jangan sampai memaksakan kehendak dan memberatkan apalagi kita minta dibelikan barang dengan harga mahal.

Dewasa ini, bepergian tidak lagi identik dengan banyak uang. Pengeluaran dalam perjalanan bisa ditekan hingga ke angka terendah, dengan membuat perencanaan matang dan riset mendalam tentunya.

Cokelat untuk oleh-oleh beli di Daiso toko 100 yen Tokyo buat adek-adek di rumah.
Cokelat untuk oleh-oleh beli di Daiso toko 100 yen Tokyo buat adek-adek di rumah.


Cek lagi, apakah yang akan dititipi ini menggunakan bagasi?

Hal ini sangat penting. Ada orang-orang yang lebih nyaman hanya menggunakan tas punggung atau carrier ke mana-mana seperti aku karena lebih praktis. Yup, karena aku jarang sekali bepergian dengan membawa koper, maka hampir bisa dipastikan aku tidak menggunakan bagasi. Terutama jika bepergian dengan maskapai Low Cost Carrier (LCC) seperti AirAsia, di mana membawa koper di luar ukuran kabin diharuskan untuk membeli bagasi, yang berarti menambah pengeluaran.

Jika seseorang tidak menggunakan bagasi, maka tas punggung biasanya tidak memiliki banyak space untuk barang-barang di luar kebutuhan pribadi. Aku bahkan seringnya hanya membelikan keluargaku beberapa barang kecil dan makanan yang tidak memberatkan, ataupun makanan yang bisa dibeli di bandara agar tidak harus menenteng barang yang terlalu banyak.

Sedangkan untuk maskapai Full Cost Carrier, biasanya mendapatkan bagasi gratis mulai dari sepuluh hingga 30 kg. Mungkin kita bisa meminta tolong kepada teman yang menggunakan bagasi ini, tapi bagaimana jika ternyata barang titipan kita terutama yang berat dan berukuran besar ini ternyata membuat mereka over baggage? Belum lagi ada kemungkinan mereka terkena random checking di petugas bandara, sehingga harus membayar pajak? Jangan tergiur barang murah di luar negeri karena ada kemungkinan kita harus membayar pajak mahal saat pemeriksaan di bandara Indonesia.


Liburan itu melepas stres, bukannya menambah kadar stres

Fungsi utama liburan itu adalah untuk melepaskan stres, bukannya malah menambahkan kadar stres yang ada karena titipan oleh-oleh dan membeli barang-barang, kawan. Kecuali untuk liburan bersifat go with the flow mengikuti ke mana kaki melangkah, sebuah perjalanan pasti telah memiliki itinerary atau rencana perjalanan sendiri.

Jika yang dititipi memang memiliki waktu luang dan berencana untuk pergi ke tempat oleh-oleh atau barang incaranmu tidak apa-apa, tapi jangan membuat mereka sampai harus mengubah rencana yang telah disusun rapi sebelumnya. Jangan sampai karena titipan kita akan merusak rencana perjalanan orang lain dan membuatnya stres.


Solusinya apa dong?


Kalau aku sih, biasanya sebisa mungkin tidak mengatakan akan bepergian. Kalau bisa jangan mengunggah foto atau video liburanmu sampai nanti terlebih dahulu. Nanti saja setelah pulang orang-orang akan sadar dengan sendirinya. Karena untuk keluarga dan teman-teman terdekat, pastilah akan diusahakan untuk membelikan buah tangan. Bukannya pelit atau tidak mau direpotkan, tapi aku biasanya sih jadi backpacker gembel, so yeah *karena diam-diam ini, aku melewatkan acara pernikahan seorang sahabat karena terlanjur beli tiket trip terakhir. Demi oleh-oleh saat trip kemaren juga, aku membuang pakaian dan barang lain di bandara Haneda Jepang dan KLIA 2 Malaysia. Beli bagasi mahal cuy, mendingan uangnya buat oleh-oleh dan makan aja.


Oleh-oleh wajib kalau ke Jakarta dan sekitarnya. Ga bisa pulang tanpa brownies Amanda
Oleh-oleh wajib kalau ke Jakarta dan sekitarnya. Ga bisa pulang tanpa brownies Amanda.

Minta oleh-oleh sebenarnya tidak ada salahnya, asal tidak sampai memberatkan. Tapi untuk meminta belikan suatu barang apalagi tidak memberikan uang terlebih dahulu, itu sih sudah pasti memberatkan apalagi jika banyak dan harganya mahal. Mungkin harga sebuah barang di luar negeri terlihat lebih murah, tapi pertimbangkan lagi kerepotan yang harus dihadapi orang yang dititipi tersebut. Jangan sampai memaksa, apalagi banyak keinginan yang 'wajib' dipenuhi.

Jika ada teman atau saudara yang berbaik hati memberikan oleh-oleh, maka terimalah dan hargai pemberiannya sekecil apa pun itu. Ini berarti mereka mengingat kita hingga mau direpotkan untuk membelikan kita sesuatu. Jangan ditolak apalagi dibuang karena ada perjuangan di balik oleh-oleh. Kita tidak tahu perjuangan mereka sebelum, selama, dan sesudah suatu perjalanan.

Liburan itu untuk dinikmati, bukannya diribetkan dengan urusan oleh-oleh dan barang titipan orang.  So have fun on your trip, you deserved it. Enjoy!



Yang bokek tapi bosan diminta oleh-oleh,


30 komentar

  1. Sebisa mungkin kalo saya gak mau lagi minta oleh-oleh, karena meminta oleh-oleh itu artinya peminta-minta,tak ubahnya seperti pengemis.
    Tapi kalau dikasih gak nolak deh..heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dikasih sih namanya rezeki kak.

      Hapus
  2. Pengecualian kan kak, kalau kk kemarin buka jastip kan kak.. ya kan? Fira jadi nggak enakan karena udah nitip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih, gapapa Fira. Selo aja sama aku mah.

      Hapus
  3. HEhheheeee....bosan sis diminta oleh-oleh? hahhahaa:D

    gelak em mbak hahahaa.........

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yak mbak, hahaha. Makanya anin sering diem-diem kalo mau pergi mbak.

      Hapus
  4. Anggap aja yang minta oleh2, itu mendoakan suapaya kita pulang dengan selamat. Tapi ngomong ya minta oleh-oleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah mbak Linda nih, yang pasti lebih capek dimintain oleh-oleh daripada Anin. Iya mbak, anggap aja didoain haha.

      Hapus
  5. hahahaha.. Memang budaya nitip jadi mendarah daging ke orang indo. Sama kayak "traktir donk". Kalo cara di saya sih ngakalin nya beli aja aksesoris kecil semacam gantungan kunci, beres, murah dan dapet banyak. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gantungan kunci di Jepang pun lumayan mahal kak. Gimana dong?

      Hapus
  6. saya baru saja mengalaminya mba dan sebel, gak tau apak ni pergi cuman berdua ma bayik..hahaha..
    tapi saya selalu berusaha memberikan buah tangan tanpa diminta, biasanya buat kawan atau tetangga dekat yang baik hati dan suka menolong heheh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal ngga memberatkan sih ngga papa mbak.

      Hapus
  7. bagian ini suka sekali, jejalan ngilangin stress bukan nambah stress, jadi kalo ada yang nitip oleh2 pun ga dianggap stress, hihihi

    btw itu brownies Amanda enak , di Jepang ga ada yoo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tujuan utama traveling kan untuk menghilangkan stres mbak.

      Hapus
  8. hihi... iya sih, kadang kita pergi traveling itu bukan karen banyak duit, orang kadang ga pernah tau gimana perjuangan kita biar bisa traveling... #eh kok curhat ya.. wek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berdarah-darah kita sebelum traveling ya mbak, haha

      Hapus
  9. Hehe,, memang kadang pusing ya kalo bnayak yg minta oleh2,, pernah ngalami soalnya, jadi travelling nya seperti kehantu ama oleh2, ga jadi asyik
    Semoga next trip nya makin seru y kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi ga nyaman ya mbak. Sampe kesel sendiri hahha. Amiiin, makasih mbak.. ^^

      Hapus
  10. hehe... saya pernah tuh bercanda sama atasan yang mau tour, tapi pas beliau pulang ternyata benar-benar dibawahakan oleh-oleh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, enak dong kalo begitu kak.

      Hapus
  11. Aku pernah dititipin beli sesuatu. Ga dibeliin ya ga enak, uangnya ga dikasih. Terus giliran udah aku bawain, ga tega ngambil uangnya 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah kalo mahal gimana mbak haha

      Hapus
  12. Iya benar, memberatkan yang dititipi. Kasihan kaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya kan mbak. Kasian yang dititipi itu.

      Hapus
  13. Disenyumin aja kalo ad yg nitip mbk.. hehe...
    Kalo pntg bgt ga papa tp kalo skedar oleh2 mah trserah kita ya.. he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah sering mbak, disenyumin, haha

      Hapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, padahal nyari titipan dia bukan termasuk dalam itin kita ya. Ngga makasih pula. Gimana ga sebel kalo begitu.

      Hapus
  15. aku pernah sis dikatain "cuma dikasih gantungan kunci?! gw beli di tanah abang juga ada yg beginian." Nyesek nggak tuh.. T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyesek banget mbak. Aku pernah malah dibuang di depan mata oleh-olehnya, sampe kesel banget dan janji ga bakal beliin apa-apa lagi buat orang itu.

      Hapus