Subscribe!

Kali pertama aku melihat Taman Nasional Lorentz, adalah 4 Desember 2019 lalu. Kala itu Google Doodle menampilkan ilustrasi dataran tinggi Habema Valley, Danau Habbema, serta burung beo Pesquet dari Alyssa Wimans. Bukan hanya sekadar doodle biasa tentunya, karena pada hari itu kita semua merayakan dirgahayu taman nasional terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Saat itu jugalah aku penasaran. Taman Nasional Lorentz mampu membuatku tergelitik untuk mencari tahu, mengapa destinasi wisata hijau Papua satu ini belum pernah kudengar sebelumnya?


taman nasional lorentz


Satu hal yang aku tahu pasti, Indonesia itu sangatlah kaya. Rasanya deretan fakta tak kunjung usai dipaparkan bila kita membicarakan pesona alamnya, budayanya, orang-orangnya, bahasanya. Terutama destinasi wisata Indonesia yang ternyata masih banyak belum terjamah oleh radarku, padahal selama ini selalu berpikir bahwa traveling adalah jalan ninjaku *eh?

taman nasional lorentz
Google Doodle. Sumber gambar: cnnindonesia




Papua, Destinasi Wisata Hijau Anti Mainstream



Mengapa aku menyebutkan bahwa Papua adalah destinasi wisata hijau anti mainstream? Yup, adalah Papua destinasi wisata hijau yang tiada habisnya. Hal ini disebabkan oleh masih belum terlalu banyak orang yang mengetahui bahwa tempat wisata di Papua itu cantiknya luar biasa. Dibandingkan dengan Bali, Lombok, atau Yogyakarta, misalnya. Para wisatawan pastinya lebih akrab dengan tiga daerah tersebut, bukan?

Meskipun Raja Ampat sendiri namanya sudah mendunia, tapi tetap saja belum terlalu banyak yang datang ke Raja Ampat dibandingkan dengan destinasi wisata Indonesia lainnya. Termasuk diriku sendiri, yang mana selama ini memang belum punya kesempatan untuk menjelajah bagian timur Indonesia.


taman nasional lorentz
Taman Nasional Lorentz. Sumber gambar: media.suara


Selama ini Raja Ampat memang membuatku ingin segera menjelajah alam Papua, tapi ternyata Taman Nasional Lorentz mampu membuatku ingin segera menginjakkan kaki di sana. Bagaimana bila ternyata diajak gratis ke Papua? Tentunya dengan senang hati, aku mau ikut liburan ke sana dong ya.



Taman Nasional Lorentz yang Membuatku Jatuh Hati



Tahukah kamu, kawasan Taman Nasional Lorentz ini terhampar seluas 2,4 juta hektar atau 25.056 kilometer persegi. Tak heran bila taman nasional yang terletak di bagian tengah hingga selatan pulau paling timur Indonesia itu dinobatkan sebagai taman nasional terluas se-Asia Tenggara.

Pernah dengar Puncak Jayawijaya, tempatnya salju abadi di Indonesia? Bahkan Puncak Jayawijaya termasuk dalam kawasan Taman Nasional Lorentz loh. Ya, taman nasional satu ini terbilang cukup lengkap, sebut saja mulai dari pesisir pantai hingga Pegunungan Alpin.


puncak jaya wijaya
Puncak Jaya Wijaya. Sumber gambar: chunpage



Keanekaragaman yang Ada di Taman Nasional Lorentz

Yak, luasnya Taman Nasional Lorentz ini bahkan mencakup 10 kabupaten: Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mimika, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jaya Wijaya, dan Kabupaten Ndua, di sepanjang gletser khatulistiwa pegunungan tingginya Asia Tenggara loh.

Bagaimana dengan hutan-hutan yang ada di taman nasional ini? Tentu saja semua jenis hutan ada, mulai dari hutan tepi sungai, hutan gambut, hutan hujan lahan datar atau lereng, hutan kerangas, padang rumpur, hutan rawa, hutan sagu, hutan hujan pada bukit, hutan pegunungan, serta lumut kerak.


Rumah Bagi Berbagai Spesies

Bukan itu saja dong. Dari Google Doodle saja sudah terlihat bahwa terdapat keanekaragaman hayati yang luar biasa di taman nasional terbesar yang telah ditetapkan sebagai Cagar Alam (Strict Nature Reserve) pada tahun 1978 ini.


spesies di taman nasional lorentz
Keanekaragaman yang ada di Taman Nasional Lorentz. Sumber gambar: indonesiabaik


Banyak spesies burung langka di sini. Salah satunya adalah burung beo Pesquet, burung langka dengan kepala dan dada berwarna hitam, serta perut dan sayap berwarna merah untuk Pesquet jantan, sedangkan Pesquet betina tidak memiliki bintik merah di belakang mata.

Pada tahun 1999, taman nasional ini didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) sebagai rumah dari berbagai satwa, yaitu 630 jenis burung, di mana 70%-nya adalah burung yang ada di Papua dan 123 jenis mamalia, termasuk di antaranya kangguru pohon serta harimau.

Adapun ciri khas dari Taman Warisan ASEAN (ASEAN Heritage Parks) ini adalah empat jenis megapoda, dua jenis kasuari, 30 jenis kakatua, 29 jenis burung madu, 31 jenis merpati, 13 jenis burung udang, dan 20 jenis endemik, seperti puyuh salju dan cendrawasih ekor panjang.

Selain kangguru pohon dan harimau, satwa mamalia di taman nasional ini terdapat 4 jenis kuskus, kucing hutan, walabi, babi duri moncong pendek, babi duri moncong panjang, echidna, serta mamalia trenggiling berduri.



What to do in Taman Nasional Lorentz?



Adapun beberapa hal yang membuatku excited adalah suku asli Agats yang bisa dikunjungi di desa-desa Asmat untuk melihat dengan mata kepala sendiri uniknya ukiran-ukiran kayu mereka. Aku juga ingin menikmati view hijau cantiknya Habema Valley dan Danau Habbema sembari mengamati burung.


suku dani
Suku Dani. Sumber gambar: infobudaya


Lembah Baliem pun sejak dulu sudah menarik perhatianku. Budaya-budaya khas suku Dani, pakaian tradisionalnya, budaya khasnya terlihat sangat menarik untuk dilihat sendiri. Juga mendaki Piramida Carstensz alias Puncak Jaya Wijaya sebagai satu dari tujuh puncak utama di dunia. Terdengar terlalu ambisius? Hey, kenapa tidak? Toh, Papua itu Indonesia.



Tentang EcoNusa Foundation

Yayasan Ecosistim Nusantara Berkelanjutan atau EcoNusa Foundation adalah organisasi nirlaba dengan tujuan mulia untuk mempromosikan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan, serta mendorong pengembangan kapasitas kelompok masyarakat sipil. Sudah banyak kegiatan yang dilakukan EcoNusa dalam membantu perkembangan negara kita tercinta ini, khususnya Papua.

Kalau kamu diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Papua, apa yang ingin kamu lakukan? Tempat wisata di Papua mana yang ingin kamu kunjungi?

No comments: